Minggu, 05 Agustus 2012

TANGGUNGJAWAB SOSIAL ISLAM TURKI KEPADA ACEH PASCA-TSUNAMI


Di antara tujuan kehadiran Islam ialah mewujudkan keamanan dan kesejahteraan umat manusia. Firman Allah SWT:

“Dan tidaklah Aku mengutusmu melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Surah Al-Anbiya’ (21): 107)

Kehadiran Islam mendidik manusia supaya dapat menjadi penebar kasih sayang di dalam kehidupan bermasyarakat. Wujud kasih sayang diaplikasikan dengan sikap peka (memberi perhatian) dan tolong menolong di dalam menjalani kehidupan. Begitu pula anjuran Nabi Muhammad s.a.w  di dalam hadis:
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang melapangkan nafas seorang Islam dari suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkan nafasnya orang itu dari suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan akhirat.” (Muslim, Hadis No.36 didalam kitab Hadis Arba’in Imam Nawawi)

Hadis ini berpesan kepada umat Islam agar mengambil berat permasalahan yang menimpa orang lain, kemudian bertanggungjawab pula untuk membantu mengatasi permasalahan-permasalahan itu. Inilah bentuk tanggungjawab sosial sesama umat.

Tindakan negara Turki yang berusaha membantu meringankan beban masyarakat Aceh selepas tsunami merupakan sikap yang selari dengan anjuran ajaran al-Qur’an dan Hadis tersebut di atas. Masyarakat Turki yang majoriti beragama Islam berupaya membantu masyarakat Aceh yang ditimpa kemalangan. Manakala diketahui bahawa masyarakat Aceh pula majoriti beragama Islam[1]. Hal ini merupakan bukti persaudaraan Islam yang kukuh dan membantah pendapat yang menyatakan bahawa negara yang majoriti penduduknya Islam tidak memberi perhatian yang besar kepada Aceh pasca Tsunami[2]. Tindakan organisasi bukan kerajaan (NGO) dari negara Turki pula mempamerkan bahawa mereka memberi perhatian yang besar kepada negara-negara muslim yang dilanda musibah.

Salah satu Organisasi bukan kerajaan dari Turki bernama Kimse Yok Mu sangat aktif membantu negara-negara yang majoriti penduduknya Islam. Kimse Yok Mu bukan organisasi yang meminta bantuan dari luar negara. Bukan pula organisasi yang menunggu program negara Barat untuk program liberalisasi. Kimse Yok Mu adalah organisasi bukan kerajaan (NGO) yang murni dari kesadaran umat Islam di Turki sebagai lembaga bantuan kemanusiaan. Ketika tsunami menimpa Aceh, telefon kantor Kimse Yok Mu yang baru berdiri[3] tidak pernah berhenti berdering. Umat Islam disana mengingatkan bahawa “anda mesti mengambil tindakan membantu mangsa”. Perjalanan pertama bantuan kemanusiaan ini disusul setahun kemudian dengan bantuan terhadap gempa bumi di Pakistan.  

Kimse Yok Mu adalah NGO yang suka membantu dan kerana itu dibantu oleh masyarakat. Kimse Yok Mu sentiasa berusaha membangun perhubungan kasih sayang dunia. Inilah salah satu karakter Islam yang sebenarnya yaitu rahmatan lil alamin (Hamid Fahmy Zarkasyi, 2011).

Menurut Abu Zahrah (1987), sikap tolong-menolong adalah wujud tanggungjawab sosial di kalangan masyarakat yang tidak sahaja terbatas di dalam segi-segi kebendaan, malah meliputi juga segi-segi moral dan spiritual. Bentuk bantuan Turki pula mempamerkan efektifiti bantuan bagi wilayah muslim yang dilanda musibah. Musibah yang menimpa Aceh bukan sahaja berakibat terhadap material, namun juga spiritual. Negara Turki membantu Aceh pasca tsunami dengan mengambil kira dua bentuk pendekatan ini. Di samping membantu dengan material seperti: makanan, pakaian, peralatan sekolah, Turki juga membantu dengan penyediaan guru dan kemudahan pendidikan lainnya. Selain itu juga membantu menyediakan kemudahan untuk beribadah seperti pembangunan semula mesjid yang rosak di desa Lampuuk, Aceh Besar. Sebab pendekatan spiritual juga akan membantu masyarakat Aceh untuk bersemangat dan bangkit semula membangun wilayah pasca tsunami.

Masyarakat Aceh merasa bangga dan selesa dengan datangnya bantuan Turki di Aceh pasca tsunami disebabkan wilayah Aceh telah mengisytiharkan sebagai Serambi Mekkah dan wilayah yang menerapkan syariat Islam. Oleh itu, masuknya bantuan Turki dianggap tidak akan membahayakan agama dan budaya penduduk yang majoriti beragama Islam. Oleh itu pertubuhan bukan kerajaan dari Turki seperti TRCS mendapat kepercayaan yang besar dari pemerintah Aceh dan dengan mudah mendapat izin untuk menjalankan aktifiti kemanusiaan di Aceh (Benthal, 2008).

Berdasarkan huraian sebelumnya didapati bahawa tanggungjawab sosial Turki turut disorot dalam aspek agama. Namun aspek lainnya seperti hubungan emosional turut memberi pengaruh pula dalam bantuan dari negara Turki kepada Aceh. Namun, hubungan emosional ini juga berkait rapat dengan persaudaraan Islam pada masa lalu.



[1] Jumlah persentase penduduk Aceh yang beragama Islam adalah 98,93% (data Kantor Kementerian Agama Provinsi Aceh tahun 2009). Sumber daripada http://aceh.bps.go.id diakses pada 19 Mei 2012.

[2] Selari dengan pendapat Din Samsudin dalam Arab Saudi Hibahkan Rp4,8 Triliun untuk Aceh. Berkaitan dengan batuan negara muslim kepada Aceh, Din Samsudin menyatakan: “Jadi, sesungguhnya negara-negara Islam memiliki komitmen yang sangat kuat untuk membantu masyarakat korban gempa. Besarnya bantuan ini bisa diartikan sebagai sangkalan terhadap opini yang berkembang bahwa bantuan dari negara-negara Islam sangat kecil. Ini terjadi akibat kurangnya publikasi.”

[3] Kimse Yok Mu berdiri tahun 2002 sebagai tanggapan atas besarnya sumbangan masyarakat Turki terhadap gempa yang menimpa Negara Turki pada tahun 1999.

Senin, 27 Februari 2012

Tadzkirah: SEDEKAH TERBAIK


Beberapa fenomena yang sudah menjadi adat/ kebiasaan kita dalam bersedekah bahwa kita memilih apa yang sudah kita pakai untuk diberikan kepada orang lain. Sering juga kita memberikan benda yang menjadi sisa dari keperluan kita, maka itulah yang kita sedekahkan. Sikap semisal pemberian bagi orang-orang miskin atau orang yang terkena musibah berupa pakaian bekas, yaitu pakaian yang memang sudah tidak berselera lagi kita untuk memakainya. Ataupun sedekah uang yang kita masukkan ke dalam kotak tabungan amal di mesjid adalah uang sisa dari belanja kita di pasar. Suatu hal yang patut disayangkan. Karena bila kita mengetahui keagungan perintah Allah tersebut dan bagaimana tuntunan agama dalam menjalankannya, maka sungguh hal seperti itu tidak patut terjadi.

Beberapa keutamaan (fadhilah) dari ibadah sedekah sungguh menakjubkan dan hal ini dapat terjadi bagi siapapun yang mengamalkannya sesuai tuntunan agama. Sedekah mengundang datangnya rezeki, sedekah dapat menyembuhkan penyakit, sedekah memanjangkan umur dan masih banyak lagi fadhilah-fadhilah lainnya. Dan janji Allah bagi setiap apa yang kita sedekahkan semata-mata karena Allah, maka Allah pasti akan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang kita sedekahkan.

Selain dari itu, sedekah juga menolak datangnya bala’ (bencana). Rasulullah saw bersabda:

“Mulailah pagi harimu dengan sedekah, barangsiapa yang memulai pagi harinya dengan sedekah ia tidak akan terkena sasaran bala.” (Al-Wasail 6: 257, hadis ke 15)

Semua fadhilah ini kita dapatkan bila kita bersedekah dengan landasan iman (yakin) kepada janji-janji Allah. Semestinya balasan yang mesti diharapkan adalah keridhaan Allah SWT saja. Karena sedekah merupakan perintah Allah.

Suatu hal yang diyakini oleh orang-orang beriman adalah bahwa apapun yang Allah berikan kepada kita adalah yang terbaik bagi kita. Namun, mengapa sebaliknya yang kita berikan di jalan Allah seringnya bukan yang terbaik?. Salah satu contohnya adalah ibadah sedekah yang kita lakukan bukan dengan pemberian yang terbaik.

Bagaimanakah sedekah yang semestinya kita lakukan?

Tuntunan agama mengajarkan kepada kita untuk menyedekahkan yang terbaik dari apa yang kita miliki. Misalnya dalam berkurban, maka agama mengajarkan untuk memilih hewan kurban yang tidak cacat, tidak kurus, tidak sakit, dan sebagainya. Maka dapat kita pahami bahwa benda yang hendak disedekahkan adalah benda yang kondisinya sangat baik. Bukan benda yang usang atau benda yang sudah tidak layak lagi digunakan.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran: 92).

Di dalam sebuah hadits pula,
Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa bersedekah meskipun seharga kurma, namun dari hasil yang baik – dan Allah tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik – sesungguhnya Allah akan menerima sedekah kurma tersebut dengan Tangan Kanan-Nya. Kemudian Dia akan menggandakannya untuk orang yang bersedekah, sebagaimana salah seorang di antara kalian memelihara seekor anak kuda, sehingga sedekah tersebut menjadi sebesar gunung.”(HR.Bukhari).

Dalam pemilihan benda yang hendak disedekahkan juga perlu diperhatikan bahwa ianya adalah benda yang memang diniatkan untuk disedekahkan, bukan karena benda tersebut merupakan sisa atau kelebihan dari sesuatu hal, misalnya: sisa perbelanjaan. Selanjutnya, pastikan juga benda yang disedekahkan adalah benda yang memang kita miliki. Dengan kata lain, bahwa barang yang hendak disedekahkan adalah milik kita yang sah, bukan barang yang tidak diketahui siapa pemiliknya, ataupun kepunyaan orang lain. 

Yang tidak kalah penting adalah penentuan penerima sedekah. Baiknya benda yang kita sedekahkan jatuh ke tangan orang yang memang memerlukan benda tersebut. Benda yang disedekahkan mesti benda yang betul-betul bermanfaat bagi si penerima sedekah.  Berikan pena kepada murid sekolah, sebab bila kita berikan pena kepada petugas kebersihan jelas kurang bermanfaat.

Natijah (Hasil) Sedekah Terbaik

Sedekah yang dilaksanakan dengan memberikan sesuatu yang terbaik mendapat jaminan diterima oleh Allah Ta’ala. Sedekah terbaik pula berdampak dalam kehidupan. Seseorang yang bersedekah terbaik, maka akan jauh dari murka Allah SWT. Karena sedekah dapat meredakan kemurkaan Allah Subhaanahu wa Taala, sebagaimana air yang dapat memadamkan api. 

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Buatlah dinding antara dirimu dan api neraka walaupun hanya dengan sebutir kurma.” (HR. Ath-Thabrani).

Mudah-mudahan Allah beri kita kepahaman, dan kekuatan untuk mengamalkannya.

Wallahu a’lam

Kamis, 10 November 2011

JENAYAH DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL MASYARAKAT

Kes-kes jenayah kian merebak di tengah-tengah masyarakat. Hampir setiap hari ada saja kes-kes jenayah yang diberitakan di akhbar-akhbar, di siaran-siaran TV dan di majalah-majalah. Berita mengenai pencurian, perampokan, pembunuhan, rogol, dan penyalah-gunaan dadah sentiasa dipaparkan menjadi berita di media. Seolah-olah tiada hari tanpa terjadinya kes-kes jenayah di tengah-tengah masyarakat.
Dunia moden menghadapi jenayah yang pada umumnya terus meningkat hari demi hari. Keadaan yang amat membimbangkan ini membuat masyarakat menjadi cemas dan takut jikalau mereka menjadi mangsa para pelaku jenayah. Selain itu, mereka juga khawatir kalau anggota keluarga mereka juga ada yang terpengaruh menjadi mangsa ataupun pelaku jenayah. Seperti pada kes penyelahgunaan dadah, kebanyakan yang menjadi pemakai dan pelaku adalah anak-anak muda yang terlibat dengan pergaulan bebas. Para pelaku pengedar dadah sentiasa berupaya mempengaruhi generasi muda demi mendapat keuntungan bagi diri mereka.
Menurut data polis, indeks kes-kes jenayah yang dilapor menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Jenyah harta benda lebih besar bila dibandingkan dengan jenayah kekerasan.[1] Patut disayangkan bahawa walaupun telah pelbagai upaya pencegahan dilakukan, namun belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Jenis-jenis persatuan pencegahan jenayah telah ditubuhkan dan polis juga telah mengambil sikap tegas terhadap para pelaku, namun belum cukup mampu mengurangi kes jenyah masyarakat.
Apa sebenarnya penyebab ramainya kes-kes jenayah di tengah-tengah masyarakat? Bagaimanakah jalan bagi mengatasinya? Bagaimana pula peran tanggung jawab sosial dalam pencegahan dan pengurangan jenayah masyarakat? Tulisan ini mengetengahkan hubungan kes-kes jenayah dengan konsep tanggung jawab sosial masyarakat dalam perspektif Islam.
Sebab Utama

Maraknya kes-kes jenayah di tengah-tengah kehidupan masyarakat adalah suatu permasalahan yang patut menjadi perhatian serius pelbagai pihak. Langkah awal yang mesti diupayakan adalah mencari penyebab utama dan selanjutnya memulai pemulihan dari sisi penyebab utama itu. Pemulihan dari sisi penyebab utama diharapkan mampu mengurangi jumlah-jumlah kes-kes jenayah itu. Dan bukan hal yang mustahil, suatu negeri bebas dari kes jenayah.
Beberapa penyebab perilaku pelaku jenayah menurut teori klasik[2] adalah:
  1. Kesempatan untuk menjadi pencuri (Sir Francis Bacon, 1600-an)
  2. Kehendak bebas, keputusan yang hedonistik, dan kegagalan dalam melakukan kontrak sosial (Voltaire & Rousseau, 1700-an)
  3. Atavistic trait atau  Sifat-sifat antisosial bawaan sebagai penyebab perilaku jenayah (Cesare  Lombroso, 1835-1909)
Penyebab-penyebab yang dikemukakan teori klasik menyesuaikan dengan keadaan pemikiran rasional manusia. Ianya bukanlah akar dari permasalahan sebenar. Menurut pandangan Islam, kejahatan adalah perilaku yang disebabkan oleh kesesatan pelaku yang mana akal sehat di dalam jiwa tidak lagi digunakan sebagaimana mestinya. Adapun situasi demikian akibat dari kekeringan iman dalam diri pelaku pada saat itu.
"Dan apabila mereka melakukan kejahatan, mereka berkata: Kami mendapatinya pada orang-orang tua kami, dan Allah menyuruh kami melakukannya. Katakanlah: Sesungguhnya Allah itu tidak menyuruh kejahatan. Apakah kalian mengatakan ke atas Allah apa-apa yang kalian tidak mengetahui. Katakanlah, Rabbku menyuruhku berbuat adil." (Surah al-'Araf (7): 28-29)

Di dalam sebuah hadith pula, Rasulullah s.a.w bersabda:
Dari Abu Hurairah, r.a., dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Seseorang yang hendak berzina, tidak akan melakukan zina itu semasa ia berkeadaan sempurna imannya dan seseorang yang hendak meminum arak,  tidak akan meminum arak itu semasa ia berkeadaan sempurna imannya dan seseorang yang hendak mencuri,  tidak akan melakukan perbuatan itu semasa ia berkeadaan sempurna imannya dan seseorang yang melakukan rompakan yang lazimnya menjadikan orang yang dirompak itu memandang sahaja kepadanya, tidak akan merompak semasa ia berkeadaan sempurna imannya." (Bukhari dan Muslim)
Hadith ini menegaskan bahawa orang yang tergamak melakukan sesuatu yang dilarang, tidak sempurna imannya. Maksudnya pada ketika ia melakukan kejahatan, imannya tidak lagi memegang kendali dirinya, sehinggalah akalnya tidak membawa manfaat.[4]
Pandangan Islam
Islam memandang berat persoalan-persoalan menyangkut gejala-gejala sosial yang menyebabkan kes-kes jenayah berlaku. Ianya mempunyai kaitan dengan ketenangan dan kerukunan hidup masyarakat. Sekiranya jenayah berleluasa, maka keselesaan hidup masyarakat telah terjejas. Sedangkan Islam adalah agama yang hadir memberikan kedamaian dan keamanan kepada masyarakat.
Islam memberikan tuntunan bagi umatnya dalam menjalani kehidupannya di dunia. Di dalam mencapai kehidupan yang aman dan damai, Islam mengajarkan umatnya aturan-aturan yang memungkinkan masyarakat yang aman makmur dapat diwujudkan.[5] Allah berfirman:
Maksudnya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Surah al-Hujuraat (49): 13)

Makna “supaya saling kenal-mengenal (lita’arafu)” di dalam ayat ini adalah kerjasama yang boleh mendatangkan kebajikan bagi membina hidup yang harmoni bagi mewujudkan masyarakat aman makmur di bawah keampunan Allah s.w.t.
Di samping bekerjasama, Islam juga telah menyediakan batasan yang amat sesuai bagi menangani kesalahan-kesalahan jenayah masyarakat, dengan tujuan memberi perlindungan kepada umum dari ancaman penjenayah dan mengawal jenayah itu sendiri dari merebak. Tiga hukuman bagi kesalahan jenayah yang pelaksanaannya dilaksanakan oleh pemerintah yaitu: Hudud, Qishas dan Ta’zir. Hukuman-hukuman ini mengandungi unsur-unsur yang membuatkan masyarakat takut untuk menghadapinya sehinggalah akan semakin berkurang para pelaku jenayah.
Anjuran Tanggung Jawab Sosial Masyarakat Islam
Tanggung jawab sosial adalah sikap  manusia yang peka dan memperhatikan kondisi yang terjadi di dalam kehidupan sesamanya. sikap yang lahir daripada rasa persaudaraan di antara sesama manusia. Islam sangat menggalakkan terwujudnya tanggung jawab sosial sebagai wujud persaudaraan di tengah-tengah umatnya. Sebagaimana diumpamakan kehidupan sesama muslim ibarat satu tubuh. Bila salah satu bagian sakit, maka bagian tubuh lainnya juga ikut merasakannya dan berusaha untuk membantunya.
Terbukti, dimana Islam hadir di negeri Arab membawa perubahan yang mendasar dan sangat besar dalam kehidupan bangsa Arab. Negeri Arab yang pada masa itu dikenal dengan kejahiliyahan, dimana begitu banyaknya kejahatan yang terjadi; perang antar-suku, penindasan, perbudakan, minum khamar, dan perzinaan terjadi merajalela, dapat berubah menjadi negeri yang aman, tenteram, dan mendapat ampunan Allah. Penduduknya yang kasar, arogan dan tamak dapat berubah menjadi penduduk yang berbudi luhur dengan akhlaq mulia yang terpancar dalam semua aktifiti kehidupannya.
Di antara tujuan kehadiran Islam ialah mewujudkan keamanan dan kesejahteraan umat manusia. Firman Allah SWT:
“Dan tidaklah Aku mengutusmu melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Surah Al-Anbiya’ (21): 107)
Kehadiran Islam mendidik manusia supaya dapat menjadi penebar kasih sayang di dalam kehidupan bermasyarakat. Wujud kasih sayang diaplikasikan dengan sikap peka (memberi perhatian) dan tolong menolong di dalam menjalani kehidupan. Begitu pula anjuran Nabi Muhammad s.a.w  di dalam hadith:
Dari Abu Hurairah r.a., Barangsiapa yang melapangkan nafas seorang Islam dari suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkan nafasnya orang itu dari suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan akhirat.[6] (H.R. Muslim)
Hadith ini berpesan kepada umat Islam agar mengambil berat permasalahan yang menimpa orang lain, kemudian bertanggung jawab pula untuk membantu mengatasi permasalahan-permasalahan itu. Inilah bentuk tanggung jawab sosial sesama umat.
Hamka (2008) mengatakan bahawa masyarakatpun berbuat dosa dan kejahatan manakala membiarkan saja segolongan kecil manusia hidup mewah yang keperluan hidupnya sehari-hari sangat berlebih-lebihan, sedang golongan terbesar mencari beras seliter pun dengan darah dan air mata.[7]
Perkataan Hamka menunjukkan betapa penting menggalakkan dan mewujudkan tanggung jawab sosial masyarakat Islam. Sikap “membiarkan” merupakan suatu dosa yang mendatangkan bahaya kesenjangan sosial di tengah-tengah masyarakat. Kesenjangan inilah yang dikhawatirkan menimbulkan pelbagai bentuk kejahatan (perilaku jenayah) masyarakat.
Bentuk-Bentuk Tanggung Jawab Sosial Masyarakat Islam
Kebanyakan orang memahami bahawa tanggung jawab sosial sekadar pada ketika terjadinya musibah yang menimpa suatu masyarakat di suatu negeri. Maka pada ketika itu orang-orang berupaya mengumpul dan mengagihkan bantuan sebagai wujud turut merasakan derita yang menimpa saudara-saudaranya. Ini adalah sebahagian kecil sahaja bentuk tanggung jawab sosial masyarakat.
Sikap tolong-menolong sebagai wujud tanggung jawab sosial di kalangan masyarakat tidak sahaja terbatas di dalam segi-segi kebendaan, malah meliputi juga segi-segi moral. Dalam mengatasi gejala sosial dan jenayah, masyarakat hendaklah berusaha mencegah kezaliman dan melindungi perkara-perkara kebaikan.[8] Dalam hubungan ini, ada diriwayatkan bahawa Rasulullah telah bersabda, “hendaklah kamu membantu saudara kamu sama ada ia dizalimi atau melakukan kezaliman. Maka berkata sahabat, “yang dizalimi itu jelas (perlukan pertolongan), tetapi bagaimana pula orang yang melakukan kezaliman? Maka jawab Rasulullah, iaitu dengan mencegahnya dari melakukan kezaliman.
Oleh itu dapat dipahami bahawa diperlukan usaha untuk mencegah terjadinya jenayah dengan mencegah seseorang dari perbuatan-perbuatan mahupun keadaan yang dapat melibatkan seseorang dengan jenayah. Sebagai suatu contoh kes, seorang bapa telah melakukan pencurian ubi di rumah seorang warga karena pada malam itu dia lihat anak-anaknya merintih kelaparan di rumah. Telah seharian anak-anaknya tidak makan, akibat tidak mampu membeli makanan untuk kehidupan mereka.
Dalam menyikapi permasalahan itu, tindakan yang perlu dilakukan masyarakat seharusnya adalah dengan mengambil perhatian dan berupaya untuk mengusahakan bantuan makanan. Tanggung jawab itu semestinya diambil oleh jiran, kemudian jiran dapat memberikan khabar tentang kesusahan yang menimpa bapa tersebut kepada institusi di kampung sehinggalah dapat diupayakan jalan keluar yang terbaik.
Dengan adanya perhatian pelbagai pihak, maka hilanglah kesenjangan, tercegahlah jenayah pada masa-masa akan datang dan wujudlah tanggung jawab sosial demi terciptanya keamanan masyarakat.
Jadi oleh sebab itu, Allah berfirman:
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?  Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin. (Surah Al-Maa’uun (107): 1-3)
Hamka (tafsir Al-Azhar) menerangkan bahwa orang yang mendustakan agama ialah orang yang menolak anak yatim dan tidak mahu menggalakkan orang supaya memberi makan orang miskin. Dilahapnya sendiri saja, dengan tidak memikirkan orang miskin. Atau tidak dididiknya anak isterinya supaya menyediakan makanan bagi orang miskin. Orang seperti ini termasuk yang mendustakan agama karena dia mengaku menyembah Tuhan, padahal hamba Tuhan tidak diberinya pertolongan dan tidak diperdulikannya. Dengan ayat ini jelaslah bahwa kita sesama Muslim, terutama yang sekeluarga dan yang sejiran, ajak mengajak, galak menggalakkan supaya menolong anak yatim dan fakir miskin itu menjadi perasaan bersama, menjadi budi pekerti yang umum. [9]

Namun hal penting sebagai bahagian dari bentuk tanggung jawab sosial masyarakat adalah adanya amar bil makruf dan nahyi ‘anil munkar yang merupakan upaya penguatan nilai-nilai agama masyarakat. Wujudnya amar makruf nahi munkar, akan berpengaruh pada peningkatan kualitas dan kuantitas iman dan amalan. Dengan kuatnya iman dan baiknya amalan, maka dapat tercegahlah jenayah di dalam kehidupan masyarakat.
Wallahu ‘alam.


[1]   Didapat daripada: http://klnportal.kln.gov.my/klnvideo/2010/transformasi/video/documents/Pelan%20Hala%20Tuju%20GTP/Pelan%20Hala%20Tuju%20GTP_Bab06.pdf
[2] Suryanto, Perilaku Kriminal: Ditinjau dari Aspek Psikologis Pelaku. Didapat dari:  http://suryanto.blog.unair.ac.id/2008/12/04/perilaku-kriminal-ditinjau-dari-aspek-psikologis-pelaku/
[3] Al-Syahid Murtadha Mutahhari, (2009). Keadilan Ilahi. Bandung: Mizan Pustaka.
[4] Diambil dari: http://www.islamgrid.gov.my/hadith/detailed.php?id=6)
[5] Dr.Haron Din. (1988). Manusia dan Islam. Malaysia: Percetakan Watan Sdn. Bhd.
[6] Al Hafidh Ibnu Hajar Asqalani, (1981), Bulughul Maram. Muh.Syarief Sukandy (terj.), Bab Kebaikan dan Silaturahmi, no.1407. Singapura: Al-Haramain Pte.Ltd., h.538.

[7] Hamka, (2008), Lembaga Budi. Selangor: Pustaka Dini.

[8] Muhammad Abu Zahrah, (1987), Tanzim Al-Islam lil-Mujtama’. Osman bin Haji Khalid (terj.), Kuala Lumpur: Bahagian Hal Ehwal Islam Jabatan Perdana Menteri.

[9] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juzu’ 30. (e-book). http://groups.yahoo.com/group/rezaervani